Menurut Anda, untuk urusan seks penting mana antara kepuasan dankenikmatan? Apakah sejatinya keduanya memiliki definisi yang sama, atau justru beda?
Teman, ternyata antara kenikmatan dan kepuasan seks itu dua hal yang berbeda. Hal ini terungap dalam sebuah diskusi 'bebas tapi sopan' yang diselenggarakan
PT Pfizer Indonesia, mengundang sejumlah media dan menghadirkan narasumber dr. Herdiman Bernard Purba, SpRM, konsultan seksologi dan Dra. Zoya D. Jusung, M.Psi, psikolog.
dr. Bernard, kepuasan seks itu 'wajib hukumnya' untuk dimiliki laki-laki dan perempuan, keduanya memiliki hak setara. "Jadi tidak usah pura-pura orgasme sementara kepuasan sejati tidak didapatkan selama bercinta dengan pasangan," ujarnya.
Bicara faking orgasm alias orgasme pura-pura, banyak orang melakukannya dengan alasan semata-mata menyenangkan pasangan. Padahal orgasme pura-pura gampang terbaca. Orang yang orgasme gampang dikenali, antara lain badan mengejang selama beberapa detik dan mengeluarkan 'suara-suara erotis atau lenguhan' yang jauh dari pura-pura.
Menurut dr. Bernard, tanda-tanda lain perempuan mencapai kepuasan adalah payudara mengeras, lubrikasi di organ genital, vagina berwarna merah kebiru-biruan akibat rangsangan dari pasangan. "Agar mencapai kepuasan maksimal, maka pemanasan adalah salah satu sarana untuk menuntun perempuan mencapai orgasme," ujarnya.
Kembali ke topik awal, jadi apa bedanya kenikmatan dan kepuasan? Menurut dr. Bernard, kepuasan seks melibatkan dua orang yang saling bekerja sama. "Beda dengan kenikmatan. Dengan masturbasi orang mendapat kenikmatan, namun belum tentu mencapai kepuasan. Jika hanya ingin orgasme saja bisa dilakukan sendiri lewat alat bantu atau menggunakan ketrampilan tangan dan bisa dilakukan sendiri. Namun belum tentu dia puas lho," ujarnya.
Zoya juga sepakat dengan hal ini. Menurut psikolog cantik ini, kenikmatan (pleasure) dan kepuasan (satisfaction) adalah dua hal yang beda. "Jika seseorang mencapai kepuasan sudah pasti dia mengalami kenikmatan, namun tidak sebaliknya," ujarnya.
Untuk mencapai kepuasan, banyak faktor psikologis terlibat. "Tidak hanya kenikmatan yang dikelola namun juga kualitas hidup, termasuk mengelola organ genital," ujar Zoya seraya mengutip sebuah penelitian di AS pada 2004 yang menyatakan bahwa kehidupan seks yang memuaskan membuat seseorang lebih percaya diri dan optimis menghadapi hidup.
"Jika seseorang kehidupan seksualnya bermasalah, sekitar 90% aspek psikologisnya terganggu, namun tidak berlaku sebaliknya," ujar Zoya.
Zona menambahkan kebanyakan pasien yang datang kepadanya terutama bermasalah dengan tiga hal yaitu keuangan, keluarga inti dan keluarga besar serta masalah seksual.
"Ada pasien yang datang dengan keluhan sakit kepala berat, migren, namun dokter tidak menemukan penyakitnya. Dokter menyarankan pasien mendatangi psikolog. Begitu dia curhat, ternyata pasien mengalami masalah seksual dengan pasangan. Saat masalah seksual ini teratasi berbagai keluhan sakit kepala itu juga hilang," kisah Zoya.
Kebanyakan pasien yang bermasalah dengan kehidupan seksualnya, kata Zoya, pasangan mengabaikan kebutuhan seksual perempuan. Padahal perempuan juga butuh dipuaskan. Sementara si pasien enggan 'menuntut' pasangan memuaskannya dengan dalih kasihan karena sudah bekerja keras seharian.
Jadi, bagaimana solusinya? "Bicarakan hal ini dengan pasangan secara terbuka saat kondisi memungkinkan untuk bicara," saran Zoya. Faking orgasm tidak akan berhasil. Jika berlarut-larut dan dibiarkan malah akan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar